Bismillahirrahmaanirrahim..
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..
Sesungguhnya dibalik kalimat basmalah terdapat suatu arti dan falsafah hidup yang mengagumkan.. Banyak buku tafsir yang membahas ayat pertama di Al-Qur’an ini dengan bahasan yang amat luas dan dalam. Tak dielakkan lagi, kalimat ini adalah landasan utama dalam falsafah hidup manusia.
Sedikit arti dibalik kalimat ini ialah sifat Allah yang Ar-Rahman dan Ar-Rahiim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ar-Rahman dapat diartikan mengasihi ke semua mahluk, tanpa kecuali termasuk manusia, tanpa memandang muslim atau kafir. sedangkan Ar-Rahim dapat diartikan Allah hanya menyayangi mahluk yang taat kepadaNya, yang senantiasa beriman dan bertakwa.
Hal ini mengartikan bahwa, apabila kita membaca basmalah sebelum melakukan segala sesuatu, insyaAllah yang kita lakukan adalah karena Allah dan akan mendapat ridho Allah SWT serta balasan amal yang baik kelak di akhirat. Bahkan bila kita hendak berbohong pun bacalah basmalah sebelumnya, sehingga kita akan ingat Allah dan tidak jadi berbohong.. :p. Apalagi bila mengerjakan amal perbuatan yang baik, dengan mengucapkan bismilah, semoga amalnya akan sampai di akhirat kelak.
Misalnya ada seorang muslim yang akan menanam padi dan membaca bismilah, sedangkan ada seorang kafir yang akan menanam padi dan tidak membaca bismilah. Lalu, ternyata hasil panennya sama2 baik dan dua-duanya sama-sama untung. Lalu apa bedanya mengucapkan bismilah dengan tidak?
Perbedaan orang yang membaca bismilah dan tidak adalah dari segi keberkahannya. Karena bagi muslim, dunia bukanlah tujuan, melainkan persinggahan saja. Keberkahan dari sesuatu akan dirasakan di akhirat kelak utamanya, dan ada pula yang dirasakan langsung di dunia, yakni (yang utama) adalah bertambahnya keimanan dan ketakwaan seseorang.
Seseorang menjadi lebih pasrah, dan yakin kepada Allah SWT bahwa, Dia-lah yang menjadikan segalanya, Dia-lah yang menumbuhkan padi, memberikan unsur hara pada tanah, menurunkan hujan, menciptakan matahari yang menjadi energi utama di muka bumi ini, dan seterusnya.
Ambilah sebuah perjalanan menuju Jakarta melalui persinggahan Cipanas, dimana di Jakarta ada jadwal pesawat yang akan berangkat. Di Cipanas, tentu kita bisa beristirahat dengan nyaman agar segar kembali dalam melakukan perjalanan ke Jakarta. Kita dapat merasakan sejuknya udara dan hangatnya berendam di kolam. Tapi seringkali kita terbuai sehingga kita lupa bahwa tujuan akhir kita adalah Jakarta, dimana kita harus melalui perjalanan panjang yang melelahkan. Segar udara dan hangatnya suasana membuat kita malas untuk beranjak. Tak terpikirkan bahwa kita akan ketinggalan pesawat bila terlambat. Namun tentu area rekreasi ini memiliki batas waktu, begitu juga bekal kita. Pada akhirnya kita harus berangkat lagi. Bila kita memilih untuk menikmati suasana tersebut lebih lama, tidak akan pernah sampai di Jakarta tepat waktu, ketinggalan pesawat dan akhirnya terlantar.
Begitu pula dengan perjalanan hidup, seringkali kita keasyikan dengan kenyamanan hidup di dunia, terlalu sibuk dengan segala macam urusan dunia, seringkali kita dibuat lupa akan tujuan kita yang sebenarnya yakni akhirat. Seharusnya persinggahan dunia dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mempersiapkan diri untuk perjalanan agar selamat dan tepat waktu sampai tujuan sebenarnya yakni akhirat (surga atau neraka).
Kejarlah akhiratmu seakan kau akan mati hari ini..
Kejarlah duniamu dengan hati-hati agar kelak selamat di akhirat..
Wallahu’alam..
*Mohon koreksinya dan masukannya… Jazakallahu khairan katsira