Bismillahirrahmanirrahim..
Kartini.. tokoh perubahan.. tokoh perjuangan..
Tapi sekarang orang-orang menganggap bahwa Kartini adalah pejuang emansipasi perempuan. Yang mana “emansipasi” disini adalah versi barat, dimana perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki. Yang pada akhirnya berujung pada paham feminisme..
Feminisme, dapat diberi pengertian sebagai “Suatu kesadaran akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat, di tempat kerja, dan dalam keluarga, serta tindakan sadar oleh perempuan maupun lelaki untuk mengubah keadaan tersebut”. Menurut definisi ini, seseorang yang mengenali adanya sexisme (diskriminasi atas dasar jenis kelamin), dominasi lelaki, serta sistem patriarki dan melakukan sesuatu tindakan untuk menentangnya, adalah seorang feminis.
Di paham ini, mereka (para feminis) paham bahwa secara kodrati (lahiriah) mereka adalah wanita dengan segala konsekuensi logisnya.. Tapi anehnya, mereka tidak mau menerima konsekuensi bahwa secara batiniah pun sudah merupakan KODRAT bahwa laki-laki dan wanita itu bebeda..
Pada akhirnya, paham ini akan dapat menyesatkan bila sudah memiliki anggapan sebagai berikut :
1. Wanita itu sama dgn laki2, boleh menjadi pemimpin bagi laki2 apabila memang layak.. Bukankah Allah telah menjadikan laki-laki itu pemimpin bagi wannita karena Allah telah melebihkan Laki-laki dari wanita.. (An-Nisa : 34)
2. Wanita tidak berhak “dikekang” oleh agama (misal tidak boleh keluar rumah tanpa memakai jilbab, keluar rumah tanpa ijin suami, keluar sendiri lebih dari 24 jam tanpa ditemani muhrimnya). Mungkin memang sulit menerima aturan ini apabila tidak dipahami akidah yang kuat. Tapi apabila dipahami, sebenarnya aturan2 ini adalah untuk keselamatan bersama, tidak hanya bagi wanita. Bagi wanitanya, jelas merupakan ibadah dan menjaga kehormatan dirinya. Bagi orang lain, juga banyak manfaatnya, minimal mengurangi dosa. Secara jujur sebagai seorang laki-laki saya mengatakan sangat mudah “tergoda” seorang wanita yang sendirian, atau tanpa memakai jilbab. Yah, selalu ada saja godaan untuk minimal memandangi..
3. Wanita tidak berkewajiban mengurus rumah tangga, alias boleh berkarir tanpa memikirkan pendidikan anak dan kondisi rumah. Lalu akan jadi apa seorang anak tanpa bimbingan kasih sayang ibunya? Apakah dia akan menjadi “anak pembantu” atau “anak babbysitter”? Bukankah seorang wanita adalah Universitas pertama bagi seorang anak? Disinilah letak kemuliaan wanita, menjadi penjaga anak, dan seluruh harta apabila sang suami tidak ada. Islam tidak melarang berkarir, tetapi kewajiban seorang istri tetaplah mesti dilaksanakan..
4. Wanita ramai-ramai menentang poligami yang katanya merendahkan derajat kaum perempuan. Tapi kenapa prostitusi dibiarkan? Kenapa perempuan-perempuan yang menjual auratnya tidak digugat? Justru poligami merupakan solusi apabila memang PERLU untuk mengangkat dan menyelamatkan harkat seorang perempuan dari jurang kehinaan.
5. Dalam hukum waris, kaum wanita menuntut bagian yang sama dengan laki-laki. Padahal ketetapan Allah adalah “Bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan…” (An-Nisa : 11). Walaupun bagiannya tidaklah sama, tapi kita tidak boleh iri terhadap kariunia Allah Swt. “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa:32)
Sesungguhnya, bukan itu yang diperjuangkan seorang Kartini.. Karena Ibu Kartini adalah seorang pejuang Islam wanita, dia memperjuangkan kesamaan hak setiap orang yang miskin dan yang kaya, laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperoleh ilmu. Waktu itu kaum wanita memiliki perbedaan hak dari laki-laki dalam mendapatkan kesempatan mencari ilmu.
“Wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara(nya)..” (An-Nisa :34)
selengkapnya :
April 21, 2008 at 9:16 am
pengen komentar aja, punten kalo ga nyambung
saya bicara bukan sebagai feminis saya bicara bukan sebagai ‘pengagung lelaki’
saya bicara sebagai orang yang bersikeras bahwa wanita dan lelaki itu sama dan saling membutuhkan. wanita tidak diciptakan dari tulang kaki karna bukan untuk diinjak, atau pun dari tengkorak karena memang bukan untuk memimpin, tapi dari tulang rusuk karena tulang rusuklah yang melindungi bagian vital laki2, jantung dan hatinya, juga untuk disayang dan dipeluk, juga untuk berjuang bersama saling berdampingan.
iya mungkin beberapa point diatas memang menunjukan ‘anehnya’ feminisme dari kacamata agama.
“Wanita tidak berkewajiban mengurus rumah tangga, alias boleh berkarir tanpa memikirkan pendidikan anak dan kondisi rumah. Lalu akan jadi apa seorang anak tanpa bimbingan kasih sayang ibunya? Apakah dia akan menjadi “anak pembantu” atau “anak babbysitter”?”
suka sebel aja gituh, sebel karena saya ngeliat sendiri dan pernah diceritain juga! kemaren malah! sadar ga sih banyolan bapa2 selama ini? giliran anaknya ancur (“ibunya sih ga bener ngedidiknya!”) tapi kalo anaknya pinter (siapa dulu bapa’nyaaa..”)
aduh, kolot banget yang begitu tuh, sampe detik ini pun masi ada yg begini! ckckck
jadi yah, kang aji jangan gitu kalo udah punya anak istri ntar, gatau diri banget kl kaya gitu, emang sih suam cape kerja cari nafkah, tapi ngedidik anak bukan hal gampang, makanya dibutuhkan team work. yang selama ini terjadi, istri lebih banyak disalahkan dan suami gamau tau apa2 asal dia udah kasi nafkah, padahal nafkah ga cuma materi! batin juga! hehe jadi nafsu! kang aji jangan jadi suami yang tutup mata sama keadaan rumah yah! hehe
“Bukankah Allah telah menjadikan laki-laki itu pemimpin bagi wannita karena Allah telah melebihkan Laki-laki dari wanita..”
ga cuma wanita yang salah paham sampe muncul feminisme, laki2 juga suka menyalah artikan kalimat diatas! mentang2 diciptakan sebagai pemimpin, suka seenaknya sama cewe dan nganggep cewe tuh “bisa apa si lo? udah deh diem di rumah aja”
dan sekali lagi ya kang aji, adis berani bilang gitu tuh dari observasi nyata!!! dilihat, didengar dan dirasa!
nah, sekali lagi, kang aji jangan kaya gitu ya, pemimpin bukan penjajah!
nuhun
April 21, 2008 at 9:17 am
aduh ko muncul smiley gitu ya? tu harusnya kurung tutup kang hehe
April 21, 2008 at 9:51 am
mantap kali bro…emang sedih, kalo ngeliat ajaran Islam cuman dipetik sebagian saja
April 23, 2008 at 2:54 am
# adis : bner banget dis, perempuan emang diciptakan dari tulang rusuk, dekat dengan jantungnya, dekat dengan hatinya.. Hal itu berarti perempuan memiliki posisi yang sangat vital bagi laki-laki.. Mereka sudah fitrahnya saling mengisi.. Kalo kata istilah adis.. “teamwork”.. It’s correct!
Tentang menjadi pemimpin.. Sesungguhnya amanah menjadi pemimpin itu bukanlah anugerah, tetapi “bencana”!
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat (menjadi khalifah) kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu karena mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (Al-Ahzab :72)
Jazakallahu khair
April 26, 2008 at 4:22 pm
iya memimpin memang bencana
tapi ga semua sadar itu bencana hihi
tapi lagi, banyak juga ko yg sadar
May 20, 2008 at 1:20 am
Memimpin dengan maskulinitas itu bukan monopoli lelaki saja…lelakipun kalau feminimitasnya lebih besar dari maskulinitasnya maka dia tak berhak memimpin, sebaliknya perempuan yang sanggup menonjulkan maskulinitasnya maka dia bisa memimpin…setiap umat manusia mengandung kedua sipat tersebut dan tak bergantung gender, spiritulitas, akal sehat, objectivitas,keadilan adalah sifat2 maskulin, sedangkan subjectivitas, emosional, dan ketidak adilan adalah sifat2 feminim. Barang siapa bisa melakukan kepemimpinan dengan maskulinitas, maka baik itu perempuan ataupun laki-laki tidak menjadi masalah. Tuhan itu tidak membedakan gender, karena komponen terdalam di diri kitapun tidak bergender
Semoga bermanfaat.