Bismillahirrahmanirrahim..

Manusia diberi anugerah otak yang luar biasa. Otak mempunyai dua bagian utama, yakni otak kanan dan otak kiri yang keduanya mempunyai perbedaan yang signifikan. Keduanya mempunyai fungsi yang berbeda yang saling mengisi satu sama lain. Alangkah luar biasa bila kedua potensi otak ini digunakan secara seimbang dan optimal.

Tapi sadarkah kita? Bahwa selama ini pendidikan Indonesia adalah pendidikan ‘otak kiri’.. Otak kiri adalah otak yang berpikir logis, sistematis, taat aturan. Namun otak kiri juga bersifat konservatif, kaku, membosankan, biasa-biasa saja, dan lain-lain. For Our Information, kurikulum yang kita pakai sekarang masih mengacu pada kurikulum kuno pada zaman penjajahan Belanda. Jadi, kurikulum yang dipakai saat ini masih bertujuan untuk mendidik siswa untuk jadi “pekerja” yang “siap pakai”.

Konsekuensinya, siswa yang lulus :
1. Cara berpikirnya kaku
2. Tdk kreatif
3. Bingung menerapkan ilmu yang didapat saat belajar pada kehidupan sehari-hari
4. Lulus kerja yang terpikir hanyalah “mencari kerja di tempat orang lain”

Kalau saja, ada pendidikan ‘otak kanan’.. maka tidak akan seperti di atas jadinya..
Karena, seperti posting gw sebelumnya otak kanan menyimpan ‘amunisi’ untuk mengembangkan potensi manusia yang ada terutama yang ada di otak kiri.. Antara lain Kreativitas, Pemaknaan, Instuisi, dan Sintesis..

Saya sendiri pun mengakui, bahwa selama ini otak kiri saya masih terlalu dominan.. Karena telah 12 tahun lebih sistem pendidikan mengasah otak kiri saya dengan baik tanpa mengabaikan si otak kanan.. (kasian ya..)

Kapan ya? Di kurikulum kita ada :
1. Pelajaran “empati”, bagaimana melatih anak agar mau peduli dan menolong sesama
2. Pelajaran Sopan santun
3. Pelajaran etika, tanggung jawab, dan rasa malu
4. Pelajaran ahlak

Padahal dalam Al-Quran, pengertian “akal” adalah digunakan secara menyeluruh yakni sebagai saranan untuk memantapkan keimanan manusia terhadap sang Maha Pencipta

“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Az-Zumar 39:21)

“…, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu,” (Ath-Thalaq 65:10)

Jadi, alangkah baiknya apabila cara berpikir manusia sudah “terintegrasi” dengan baik antara otak kiri dan kanannya.. Otak kiri sebagai alat berpikir logis dan sistematis, sedangkan otak kanan sebagai alat berpikir mendalam, yang didalamnya banyak pemaknaan tentang jati diri manusia.