Cinta Sejati…

by Agi S. (edited by Miaji)

Menurut Jaques Derrida, seorang filsuf asal Perancis. Dia yang mengatakan bahwa hakikat dari cinta itu adalah Narsisme. Dalam mitos Yunani dikenal seorang pria yang sangat tampan. Pria itu bernama Narcissus. Setiap hari kerjaannya hanya duduk di atas sebuah kolam sambil mengagumi bayangan wajahnya sendiri yang tercerap di atas permukaan air. Ia melakukan aktivitas tersebut hingga akhir hayatnya.

Jadi Narsisme adalah pandangan yang mencintai diri sendiri (secara berlebihan). Agak dramatisasi memang Derrida, namun pesan yang dapat ditangkap adalah pada hakikatnya ketika seseorang mencintai orang lain, maka sebenarnya ia sedang mencintai dirinya sendiri. Ada “sesuatu” dari diri orang lain yang dibutuhkan oleh sang pecinta. Kata Miranda Risang Ayu,  diciptakanlah oleh Allah kebutuhan pelengkap kita yang tidak tersedia di dalam diri kita sendiri, akan tetapi hanya terdapat pada diri orang lain.

Kita dapat melihat betapa adiktifnya Majnun terhadap Layla dan juga sebaliknya melebihi kecanduan seorang pecandu narkoba sekalipun. Lantas, bagaimana menempatkan ketergantungan kita pada sesuatu terhadap sang kekasih di dalam kerangka proporsionalitas?

Mari kita pinjam teori Erich Fromm di dalam bukunya yang berjudul The Art of Loving. Ada dua motivasi mencintai, yaitu to have (hasrat untuk memiliki) dan to become (hasrat untuk menjadi). Motif pertama yaitu keinginan seseorang pecinta untuk memiliki (to have) pasangan yang dicintainya sehingga logika yang berlaku di alam bawah sadarnya (sub consciouss mind) adalah to conquer. Pada saat pendekatan (belum memiliki), ia akan memakai “topeng putih” yang menutupi segala keburukan dan sisi hitam dirinya sehingga yang nampak hanyalah kebaikan-kebaikan dan kelembutannya saja. Namun ketika ia berhasil memiliki sang pujaan hati itu, maka sedikit demi sedikit topeng putihnya mulai tersibak sehingga ia akan berubah 180 derajat menjadi seorang “penindas”. Logika to conquer-nya telah bekerja sedemikian hebatnya di dalam alam bawah sadarnya sehingga menjadikannya sedemikian rupa.

Motif kedua ini merupakan motif yang paling mulia dan merupakan makna cinta yang sesungguhnya. Seperti yang telah diulas sebelumnya, pada dasarnya ketika manusia sedang mencintai orang lain maka sesungguhnya ia sedang mencintai dirinya sendiri. Mengapa? Karena manusia memiliki kelebihan dan kekurangan pada dirinya sendiri. Dan untuk menjadi manusia yang paripurna (paling tidak mendekati kesejatian paripurna), ia membutuhkan eksistensi di luar dirinya yang akan menggenapkan dirinya dengan menutupi kekurangannya untuk mencapai kesempurnaan tersebut. Orang seperti ini mencoba untuk tidak bergantung pada “obyek” yang dicintainya, tetapi pada substansi “satu cinta” itu sendiri yang menjadikannya orang yang menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya (mencapai kesempurnaan). Output psikologisnya, orang ini akan (mencoba) berbahagia dan berbesar apabila melihat twin flame yang teramat dicintainya berbahagia di dekapan orang lain meskipun ia tahu bahwa kekasihnya sesungguhnya juga mencintai dirinya, atau bahkan ketika soul mate-nya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya menghadap Zat Yang Maha Memiliki.

Benar, meskipun hatinya sangat teriris. Dengan cinta ia menjadi (to become) orang yang jauh lebih baik dan berkualitas yang mendekatinya pada Kesempurnaan Yang Hakiki.  Seperti lagunya Robbie Williams, to be a better man.  Jadi proporsionalitas cinta terjadi ketika kita mampu menempatkan pelengkap yang ada pada diri orang lain itu  dalam kerangka menjadikan kita (becoming) mendekati Sang Pemilik Kesempurnaan Sejati yaitu Allah. Inilah yang disebut dengan cinta sejati.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.