Saya dan SUTET
Saya berani jamin, hidup Anda ga akan bisa lepas dari yang namanya listrik..
Ga percaya?
Coba aja Anda matikan saklar utama di Meteran Listrik yang nempel di dinding depan rumah sehari aja..
Ga usah sehari deh, dua jam aja..
Apa anda merasa bisa beraktivitas dengan normal?
Ya, ga bisa disangkal lagi.. listrik udah jadi semacam kebutuhan primer buat manusia..
Mulai dari bangun tidur sampai untuk membangunkan orang dari tidur..
dari kasur sampai dapur, dari ruang privat sampai ruang publik..
24 jam,
nonstop.
tapi pernahkah Anda berfikir, bagaimana listrik itu bisa hadir di kehidupan Anda?
Kalo Anda menyangka tulisan ini untuk memberi informasi Anda tentang sistem kelistrikan, wah.. Anda terlalu berharap banyak.. mending cari di Google aja deh.. hehehe..
Karena saya bukan lagi ingin membahas masalah teknis di sini.. yang saya bahas mungkin semacam ‘curhat’ dari pekerjaan saya..
Males baca curhatan saya? Silakan cari web lain yang lebih bermanfaat..
tapi kalo ingin baca sisi lain dari pembangunan listrik di Indonesia silakan baca sampai tamat..
Cerita ini saya awali Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah.. ada apa di tempat ini?
di sini terdapat salah satu sumber listrik paling besar yang ada di pulau Jawa..
PLTU Tanjung Jati.. pernah dengar?
ia menyuplai 2 x 600 MW ke sistem kelistrikan Jawa Bali.. artinya kalau rata2 per kepala keluarga memakai listrik 1200 Watt, jumlah sebanyak itu bisa dipakai untuk 1 juta KK..
lalu beberapa bulan ke depan ditargetkan akan bertambah sejumlah 600 MW dan 600 MW lagi satu tahun ke depan.. sungguh berita menyenangkan bukan?
Nanti dulu saya belum selesai cerita.. masih lanjut nih..
Nah, masalahnya adalah.. Dana yang dibutuhkan untuk membangun PLTU itu tidak murah.. kalau diperkirakan bisa mencapai sekitar Rp 50 Triliun, bahkan lebih.. Wow! berasal dari mana dana sebanyak itu?? Silakan tebak sendiri..
Ya, tebakan Anda benar… Dana itu berasal dari asing..
tepatnya dalam PLTU Tanjung Jati ini berasal dari Jepang.. Milik sebuah perusahaan swasta…
Lalu apa masalahnya?
ternyata perusahaan swasta ini telah memiliki perjanjian dengan pemerintah atau PLN (ga tau yang mana tepatnya soalnya PLN pun mewakili pemerintah dalam hal kelistrikan kan?)
Isi perjanjian itu adalah salah satunya.. Pemerintah yang diwakili PLN akan bersedia menyalurkan listrik yang dibangkitkan oleh PLTU tersebut kepada konsumen melalui sebuah jaringan.. dan apabila pada saat proyek PLTU selesai tetapi jaringan listrik tersebut belum siap, PLN atau pemerintah akan membayar denda yang cukup besar kepada perusahaan swasta tersebut setiap harinya.
Biar saya perjelas di sini.. sebuah perusahaan swasta asing membangun sebuah pabrik di Indonesia, lalu membuat perjanjian agar produk yang dihasilkan pabrik tersebut HARUS dibawa dari pabrik tsb sampai ke tangan konsumen oleh orang Indonesia.. apabila tidak, Indonesia harus BAYAR DENDA.
WOW betapa kasihannya negeri ini.. dipaksa untuk membeli barang dan mendistribusikannya… dari orang asing..
Mengapa hal itu bisa terjadi? Kebutuhan listrik masyarakat memang selalu meningkat.. saking pentingnya permintaan listrik itu, kita sampai berani ‘mengimpor’ listrik dengan risiko dan konsekuensi yang besar itu..
Bisa dibayangkan ketika kami bekerja untuk membangun jaringan dari PLTU tersebut.. kami selalu dihantui “BAYAR DENDA” pada orang asing jika kami terlambat.. Memang pada prakteknya bukan uang kantong kami yang digunakan (ga tau ding kalo ternyata gaji dipotong! hahaha). Tapi kami merasakan sebuah beban mental tersendiri.. yang harus kami pikul tiba-tiba, tanpa tahu ujung pangkalnya.. maklum kami hanya pelaksana.. hehehe.
Yang jelas saat ini kami hanya bisa berusaha sebaik mungkin.. meskipun kami tidak tahu kenapa awal mulai proyek jaringan ini terlambat.. meskipun terbentur masalah pembebasan tanah.. meskipun dibayangi dicap “tidak becus kerja”.. Tapi kami adalah kami..
Kami hanyalah pelaksana di lapangan.. Keadaan di lapangan yang keras.. kami tak pernah tahu dan kami tak pernah bisa menduga tentang waktu.. apalagi untuk faktor non-teknis.
Yah, ini hanyalah sebuah kisah lain yang mungkin blm pernah diketahui banyak orang.. sekedar menceritakan betapa negeri ini begitu sering terjepit di sebuah krisis.. sehingga dalam pengambilan keputusan sering malah merugikan dirinya sendiri..
Semarang,
110111
Like this:
4 Responses to “Saya dan SUTET”
Leave a Reply Cancel reply
Archives
- September 2011
- January 2011
- November 2010
- April 2010
- January 2010
- November 2009
- October 2009
- August 2009
- May 2009
- April 2009
- March 2009
- February 2009
- January 2009
- November 2008
- October 2008
- August 2008
- July 2008
- June 2008
- May 2008
- April 2008
- March 2008
- January 2008
- December 2007
- November 2007
- October 2007

wah, kok mahal ya.. sampe 50 triliun begitu?? saya pernah liat acara di salah satu televisi swasta, ada sebuah desa yang listriknya disupply oleh desa itu sendiri. Jadi salah seorang penduduk desanya membuat sendiri pembangkit listrik tenaga air, sehingga listrik masuk desa. Tidak ada yang namanya biaya listrik mahal di desa itu. Cuma saya lupa desa mana dan stasiun televisi mana
mas uDjo : itu nilai perkiraan yang wajar mas untuk investasi total PLTU dengan kapasitas sekitar 2400 MW, bisa dibandingkan dengan proyek PLTU lainnya.. Kalau untuk PLTA, memang relatif murah karena memanfaatkan tenaga alam, tetapi terbatas, ga semua daerah punya aliran alir yang deras kan?
Thanks for comment
artikel yg bermanfaat..
thank’s..
Trims for comment..