Budaya Itu…

Bismillahirrahmanirrahim…

Budaya, sepaham apa Anda dengan kata yang satu ini?

Menurut William H. Haviland, “Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di terima oleh semua masyarakat”. Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantara, “Kebudayaan berarti buah budi manusia yg merupakan hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai”.

Dengan dua definisi di atas, dapat kita ambil secara garis besar bahwa budaya adalah sebuah “norma” atau “peraturan” yang biasa kita sebut dengan kata “kebiasaan” atau “adat-istiadat” yang semuanya merupakan produk dari MANUSIA sebagai mahluk yang memiliki TUBUH, AKAL, dan HATI.

Sebagaimana sifat MANUSIA yang bergelimang dosa dan kesalahan, sebuah BUDAYA pun tak akan luput dari kesalahan penciptanya, yakni MANUSIA. Maka apakah BUDAYA atau “kebiasaan” atau “adat-istiadat” harus kita terima dan kita laksanakan secara MUTLAK? Jawabannya tentu saja TIDAK.

Kembali lagi mengenal diri yang memiliki tubuh, akal, dan hati, manusia seharusnya selalu memanfaatkannya dengan baik dalam setiap perilaku dan kegiatan yang akan dilaksanakannya. Jika seorang atau sekumpulan manusia memandang sebuah BUDAYA yang merupakan produk dari manusia yang hidup sebelumnya, maka hendaklah dia menggunakan semua potensi yang ia miliki untuk mempertimbangkan betul-betul sebuah bentuk BUDAYA sebelum ia melaksanakannya. Bahkan ia pun dapat memodifikasi atau mengubahnya jika ia mau.

MANUSIA adalah sebuah makhluk ciptaan. Sebagai ciptaan, tentu ada tujuan diciptakannya. Allah SWT tentu sudah memiliki Grand Design yang dapat dipahami oleh manusia, untuk apa manusia diciptakan. Jadi, dalam menyikapi sebuah budaya yang telah ada, hendaknya manusia tetap ingat pada tujuan diciptakannya ia, hendaknya ia senantiasa memegang “buku petunjuk” yang disediakan oleh Sang Pencipta. Apabila budaya itu sesuai dengan buku itu, maka laksakananlah, tetapi apabila tidak, maka tinggalkanlah.

 

Al-Baqarah: 1
1. Alif laam miim.
Al-Baqarah: 2
2. Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
Al-Baqarah: 3
3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
Al-Baqarah: 4
4. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
Al-Baqarah: 5
5. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya,dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Al-Baqarah : 1-5)
Advertisement

Tags: , , ,

One response to “Budaya Itu…”

  1. uDjo says :

    saya setuju.. kita harus tetep berpegang ke “buku petuntuk” :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.